Hari itu, tepatnya pada 19 Desember 2009 di sebuah kota aq menghadiri seminar entrepreneur yang dibawakan oleh sang No. 1 Creative Marketer in Indonesia (Ipho “Right” Santosa). Hal yang cukup fenomenal menurut aq ialah ketika pemateri membahas tentang peran dan fungsi dari dua otak manusia yang ternyata memiliki perbedaan yang sangat mencolok seperti 2 kutub medan magnet yang bertolak belakang, dimana otak kiri manusia lebih berperan analitis dan penuh perhitungan sedangkan otak kanan berhubungan dengan imajinasi dan intuisi. Berbicara mengenai fungsi otak manusia tentu pada akhirnya akan berkaitan dengan pembentukan pola pikir.

Robert T. Kiyosaki dalam bukunya “RICH DAD POOR DAD” yang aq anggap sebagai karya yang luar biasa itu menyebutkan bahwa yang membedakan antara orang kaya dan miskin adalah MIND SET (pola pikir) mereka. Kebanyakan orang kaya tambah kaya karena mereka memiliki kesempatan lebih banyak dengan memanfaatkan uangnya untuk memperoleh dan mengembangkan aset (bukannya liabilitas) untuk menunjang kehidupan meraka di masa depan. Sebaliknya mangapa orang miskin atau kelas menengah mengalami lebih banyak kegagalan dalam finansial? Mereka tidak lebih cerdas dalam hal penataan dan pengelolaan keuangan sehingga mereka memanfaatkan uangnya hanya untuk kebutuhan-kebutuhan sekunder demi mendapatkan kesenangan sesaat.

Lebih dalam lagi Robert menuturkan bahwa meraih kebebasan finansial dibutuhkan financial intelligence (kecerdasan finansial) yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah maupun pendidikan formal lainnya.

Senada dengan itu, Ippho Santosa mengungkapkan bahwa pendidikan formal hanya mengajarkan dan melatih otak kiri manusia yang sifatnya penuh dengan analisa dan serba lambat dalam berpikir.

Hal serupa diungkap oleh Tung Desem Waringin (pelatih sukses no. 1 Indonesia) dalam best seller-nya “FINANSIAL REVOLUTION” yang merupakan satu-satunya buku dari Indonesia yang mendapat pujian dari 3 guru besar internasional bahwa apa yang diperolehnya dengan meraih sekian banyak penghargaan dari perguruan tinggi ternyata tidak cukup untuk mengantarkannya pada kebahagiaan.

Nah, kita coba memperluas wawasan tentang definisi kaya, menurut versi majalah forbes bahwa orang kaya adalah mereka yang memiliki income $1 juta per tahun atau 10 M per tahun (dengan asumsi $1=Rp.10.000). jika dirata-ratakan maka mereka dapat disebut kaya jika berpenghasilan + 800 juta per bulan.

Namun Kiyosaki berpendapat lain, ia menyimpulkan bahwa kekayaan tak dapat diukur dengan seberapa besar pendapatan (active income) mereka. Akan tetapi menurut beliau , kekayaan adalah “jumlah hari dimana anda bisa bertahan hidup tanpa bekerja secara fisik (atau tanpa siapapun dalam keluarga anda bekerja secara fisik) dan tetap mempertahankan tingkat kehidupan anda”. Sebagai contoh : jika pengeluaran anda adalah Rp. 1.000.000/bulan, dan jika anda memiliki tabungan sebesar Rp. 3.000.000 maka kekayaan anda adalah sekitar 3 bulan atau 90 hari. Kekayaan diukur dalam satuan waktu, bukan uang. Dengan demikian orang disebut kaya apabila passive income-nya lebih besar dari pada biaya hidup, yang dimaksud passive income disini adalah uang yang masuk tanpa harus bekerja.

Lantas apa yang dimaksud dengan kebebasan finansial…???

Apakah hanya dengan bekerja sebagai pimpinan cabang utama pada sebuah Bank terkemuka maka kita telah meraih kebebasan finansial? Ataukah dengan menjadi kepala Dinas pada instansi pemerintah? Atau menjadi dokter? Publik figur? Pengacara? Duta besar? Atau profesi lainnya dengan penghasilan yang relatif tinggi namun harus bekerja keras itu disebut sebagai orang yang telah meraih kebebasan finansial? it is NO…

Anthony Robbins (World No. 1 succes coach) berpendapat bahwa kebebasan finansial yang absolut adalah, “suatu kondisi keuangan dimana kita mencapai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan karena itu kita yakin bahwa kita bisa melakukan secara nyata apapun yang kita inginkan, kapanpun kita inginkan, kemanapun kita inginkan, dengan siapapun kita inginkan, sebanyak dan selama yang kita inginkan, dalam cara yang membuat kita bebas menentukan gaya hidup yang kita inginkan”. Dengan kata lain kita bebas menentukan gaya hidup yang kita inginkan tanpa harus bekerja lagi seumur hidup.

Menjadi extra ordinary people…

Sampai disini pembaca yang budiman pasti ada yang bertanya, “bagaimana kita dapat mencapai kebebasan finansial…?”. Apakah dibutuhkan pendidikan hingga setinggi-tingginya? Apakah hanya dengan pendidikan tinggi yang dapat menjamin keberhasilan kita? Juga tidak…

Perlu disimak bahwa Robert T. Kiyosaki (bapak kaya dunia) merupakan orang yang terdidik secara formal (memiliki ijazah perguruan tinngi) namun sejujurnya ia mengatakan bahwa mencapai kebebasan finansial pada tahun 1994 (usia 47 thn) tidak ada hubungannya dengan apa yang diperolehnya di perguruan tinggi. Banyak orang sukses meninggalkan bangku sekolah tanpa memperoleh ijazah perguruan tinggi, mereka antara lain : Thomas A. Edison (pendiri General Electric), Henry Ford (pendiri Ford Motor Co.), Bill Gates (pendiri Microsoft), Ted Turner (pendiri CNN), Micheael Dell (pendiri Dell computer), Steve Jobs (pendiri Apple Computer), Ralp lauren (pendiri POLO). Mereka adalah sedikit dari sekian banyak orang yang sanggup menjadi milyader dengan menciptakan dan mengembangkan bisnis sendiri tanpa malalui pendidikan formal. Mereka pun layak disebut sebagai extra ordinary people…

Bukan bermaksud memprovokasi agar pembaca segera meninggalkan sekolah atau kuliahnya, namun aq cuma ingin agar kita dapat mengambil hikmah dari fakta diatas dimana pendidikan saat ini hanya menitikberatkan pada proses transfer pengetahuan saja tanpa adanya misi pengembangan karakter melalui kecerdasan finansial, dll. Keberanian mengambil resiko untuk action dengan terjun langsung ke medan bisnis adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk keluar dari belenggu kemiskinan.

By : Dhedie Arham GooNers

5 Comments

  1. Great Idea . . .

Leave a Reply

*