Sepenuh hati aq meyakini bahwa setiap insan memiliki sederet prestasi dalam hidupnya, tidak melihat besar kecilnya prestasi itu melainkan sejauh mana ia mampu menunjukkan jati dirnya sebagai hamba yang dianugrahi potensi diri. Potensi? Ya potensi, ku kerap tercengang dengan istilah itu. Sesederhana itu kah teori para ahli berbicara akan potensi? Benarkah aq dilahirkan ke muka bumi ini dengan membawa potensi dalam diri? Lalu apa potensi yang kini aq miliki? Tdk ada, maaf, aq lalai akan rahmat-Mu. Namun aq sadar mengarungi luasnya samudera hidup ini tidak semudah dan sesimple berkicau di akun twitter. Lelah menghampiriku, setiap aliran keringat yang keluar dari pori-pori tubuhku ibarat buih di lautan yang tidak menghasilkan apa-apa. Frustasi, kata ini cocok disematkan padaku. Ego telah membelenggu jalan hidupku, pikiranku melayang tanpa arah. Lalu apa yang  mesti kuperbuat? Menangis? Menyesal? Berontak? Atau mengakhiri hidup ini? Aq bukan lah anak kecil yang berpikir sedangkal itu. Aq manusia kompetitif, aq mampu bersaing bahkan mengalahkan jutaan calon penghuni planet ini. Ku mampu mengalahkan mereka bahkan sebelum aq terlahir ke dunia ini. Lantas apakah aq pantas untuk berbangga? Ku jawab tidak, namun ku tetap bersyukur karenanya. Ku yakin bahwa semua itu berkat Tuhan, Tuhan yang mengintervensi jalan hidupku. Dia lah penguasa jagad raya. Dia mampu melakukan segalanya, bahkan membuat hatiku terbolak-balik dengan segala kemampuan yang dimiliki-Nya. Aku lemah dihadapan-Nya, bahkan aku lebih hina dan rendah dari kotoran hewan jika harus berjumpa dengan-Nya.

Kemana? Kemana lagi ku harus mencari misteri itu? Misteri yang hingga kini belum aq temukan, luasnya lautan pasifik belumlah seluas wilayah pencarianku, tidaklah siang berganti malam dan malam berganti siang melainkan kusempatkan waktuku untuk mencari dan terus mencari dalam lautan misteri kehidupan. Sesulit itukah? Toh sejatinya hanya aq yang dapat menemukannya, bukan makhluk lain. Hampir pudar impianku karenanya. Mencari sesuatu yang sesunggunya tertanam dalam diriku sendiri yang bernama potensi diri. Akankah ku habiskan sisa hidupku hanya untuk mencari keberadaanmu yang penuh tanda tanya? Sungguh ini bukan lelucon, biarlah angin menggugurkan seluruh harapanku. Kini ku sadar, ternyata diri ini belum pantas menemukan mu. Namun ku selalu optimis kau pasti ada dalam diriku yang suatu saat siap meledak dan membelalakkan mata semua orang yang melihatnya. Pada akhirnya, Ku hanya dapat  memohon keridho’an-Mu. Tuhan! Buka kan mata hati dan penglihatanku untuk dapat melihat dan menyaksikan potensi yang ada dalam diriku!

By Dedhie Arham GooNers (Mohon maaf jika tidak menarik, masih awam dengan dunia tulis menulis) 🙂

Leave a Reply

*