Sejarah mencatat timnas Indonesia terakhir kali menjuarai kompetisi sepak bola bergengsi Asia Tenggara 22 tahun silam saat merebut medali emas Sea Games Manila tahun 1991, masih teringat beberapa tahun lalu di penghujung tahun 2010 dan 2011 Timnas kita sempat diyakini bakal mengakhiri dahaga gelar karena tampil gemilang di penyisihan grup dan mampu  lolos hingga babak final. Namun sayang timnas senior yang kala itu ditangani pelatih Alfred Riedl dan Timnas U-23 yang dikomandoi oleh Rahmad Darmawan harus rela kembali dinobatkan sebagai spesialis runer up karena hanya sanggup menempati juara 2 setelah sama-sama dipecundangi oleh timnas negeri jiran Malaysia di partai puncak. Bahkan pada piala AFF U-16 yang belum lama ini digelar sebelum AFF U-19 bergulir, Indonesia kembali tampil konsisten dengan meraih kemenangan demi kemenangan hingga menjadi finalis untuk kembali berjumpa dengan seteru abadi Harimau Malaya. Kala itu saya pun menaruh optimisme yang besar kepada pasukan garuda remaja ini sebab di semifinal meraka sanggup mengalahkan tim kuat asal negeri Kanguru Australia walau hanya melalui drama adu penalti. Namun pada akhirnya saya pun kembali harus gigit jari setelah menyaksikan Timnas kita lagi-lagi menelan kekalahan atas Malaysia.

Tidak buruk, dalam hati saya berujar demikian karena secara keseluruhan menurut pengamatan saya timnas kita justru tampil lebih meyakinkan dibanding negeri tetangga, mampu unggul dalam 90 menit sebelum akhirnya lawan dapat mencuri gol lewat tendangan 12 pas di masa injury time akibat bek kita yang terbukti melanggar di area terlarang. Sial, adalah kata yang pantas untuk diberikan buat timnas kita kala itu. Kemanangan yang sudah nyaris digenggam harus dibayar mahal akibat gol yang membungkam seluruh pencinta sepak bola Indonesia di menit-menit akhir pertandingan babak kedua. Akhirnya laga pun harus disudahi melalui adu cerdik tendangan 12 pas, kembali kita harus menelan pil pahit setelah kalah dan harus puas menjadi runer-up.

Indonesia win

Selebrasi Timnas u19 Indonesia usai taklukkan Vietnam

Kini asa pun kembali muncul di permukaan, pada perhelatan piala AFF U-19, Indonesia yang bertindak sebagai tuan rumah kembali unjuk gigi dengan melenggang sampai ke pucuk turnamen. Kali ini lawan yang dihadapi ialah skuad yang sudah terbentuk selama 6 tahun di akademi sepak bola Arsenal di Vietnam. Ya, timnas U-19 Vietnam bukanlah tim sembarangan, hal itu semakin dikuatkan dengan tidak terkalahkannya mereka selama penyisihan grup bahkan selalu menang termasuk saat menghadapi Indonesia yang berakhir dengan skor 2-1. Ada hal menarik yang sempat tersaji pada pertandingan pamungkas penyisihan grup dimana Indonesia bertemu dengan Malaysia yang juga merupakan laga hidup mati, “el clasico” Asia tenggara kembali dipertontonkan, inilah duel adu gengsi sarat emosi, siapapun yang kalah maka otomatis tersingkir. Namun Indonesia masih lebih diuntungkan karena hanya butuh hasil imbang untuk dapat melaju ke semi final. Saat itu peluangnya adalah 50%-50%, Malaysia tak dapat dianggap remeh karena mereka juga tempil mengesankan di laga-laga sebelumnya bahkan untuk meraih hasil imbang pun peluangnya masih 50:50. Tidak mudah memang bagi timnas kita untuk lolos ke semi final, Malaysia hampir saja kembali memupus asa publik tuan rumah andai Indonesia tak dapat mencetak gol di menit-menit akhir babak kedua. Jantung saya pun kembali harus dibuat berdebar karenanya, terus terang saya gak akan rela untuk yang kesekian kalinya melihat timnas kita dijungkal oleh Malaysia. Pengamatan saya menunjukkan bahwa laga melawan Malaysia menjadi laga terberat setelah Vietnam, rasa respect dan bangga saya tak dapat lagi diungkap dengan kata-kata, ini adalah momentum untuk kembali merebut gelar juara. Alhasil Indonesia sukses membenam pasukan muda Malaya dengan hasil imbang 1-1.

Ditengah euforia merayakan kemenangan atas Malaysia yang merupakan musuh bebuyutan, tersimpan sedikit kehawatiran dalam benak ini. Berbagai pengamat meyakini Garuda Muda kembali akan berjumpa tim tangguh Vietnam di partai puncak, ini yang menjadi kehawatiran saya mengingat Vietnam tampil sangat impresif dengan menyapu bersih semua laga di penyisihan grup. Kehawatiran itu pun benar-benar terjadi, Indonesia harus bentrok dengan Vietnam di partai final setelah menang lawan Timor Leste dengan skor 2-0, sedangkan Vietnam menang melawan Laos di semi final dengan angka tipis 1-0. Awalnya saya sedikit bimbang atas peluang Indoensia untuk dapat menjadi yang terbaik di ajang ini, secara Vietnam tampil begitu “menakutkan” selama perhelatan piala AFF ini terlebih lagi mereka memiliki skuad yang secara kolektivitas sudah sangat padu bermain diatas lapangan hijau. Terbukti sejak pluit awal dibunyikan, timnas kita terus digempur oleh serangan-serangan mematikan walaupun barisan pertahanan kita juga masih cukup disiplin mengawal aliran bola yang datang ke area kotak penalti Indonesia. Beberapa kali saya harus menahan napas menyaksikan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Vietnam yang terlihat tanpa ampun merusak konsentrasi pertahanan Indonesia. Praktis babak pertama permainan dikendalikan sepenuhnya oleh Vietnam, saya sempat memprediksi bahwa Vietnam hanya butuh waktu yang tepat saja untuk dapat mengoyak jala gawang Indonesia yang dijaga oleh Revi Murdianto. Namun untungnya prediksi saya meleset, gawang Indonesia masih perawan hingga pluit tanda berakhirnya babak pertama dibunyikan. Saya pun harus memberi acungan jempol kepada penjaga gawang Indonesia yang beberapa kali berhasil menggagalkan peluang yang diciptakan oleh pemain Vietnam. Babak kedua berlangsung lebih seru karena Indonesia sudah mampu keluar dari tekanan dan mengimbangi permainan atraktif yang diperagakan oleh Vietnam, bahkan beberapa kali kita dapat menciptakan peluang emas di depan gawang Vietnam meski tak satu pun yang dapat dikonversi menjadi gol. Tampaknya pemain Vietnam mulai kelelahan, permainan agresif mereka di babak pertama yang terus menekan tim kita jarang terlihat lagi. Konsentrasi dan fisik yang mulai kendur diyakini menjadi penyebabnya. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mencoba menjebol gawang lawan, tapi sayang hingga 90 menit berlalu, Indonesia belum juga dapat mencatatkan pemainnya sebagai pencetak gol. Pertandingan pun dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu atau ekstra time selama 2X15  menit dan lagi-lagi kedua tim belum mampu mencetak gol sehingga dipastikan pertandingan harus diakhiri melalui adu tendangan penalti.

indonesia juara

Indonesia memang pantas juara

Trauma, itu satu kata yang terlintas dalam pikiran ini. Indonesia beberapa kali harus mengakui keunggulan lawan saat harus bersua melalui adu penalti. Saya pun percaya kalau seluruh pemirsa Televisi dan juga penonton di stadion gelora delta Sidoarjo yang merupakan tempat dilaksanakannya pertarungan sengit ini pasti merasakan hal yang sama, dag dig dug. Detak jantung ini semakin berdebar kencang tak karuan, ini merupakan kejadian yang langka dalam hidup ini. Biasanya hanya terjadi di moment-moment tertentu, ini demi merah putih, inilah jiwa nasionalisme yang telah tertanam sejak lahir, ini nyata muncul secara lahiriyah dari diri kita tanpa rekayasa. Sebagai penonton kita pun turut merasakan kegelisahan. Ya, itulah fanatisme bangsa Indonesia yang begitu cinta pada tanah air. Melalui sepak bola kita diajarkan untuk bersatu dan bertekad demi sebuah kejayaan. Tak mengenal suku, Ras dan golongan, semua satu kata demi untuk menerbangkan kembali Garuda yang telah lama bertengger diatas ranting pohon bernama kegagalan. Terbanglah Garuda ku ke angkasa luas! Raih sebanyak mungkin prestasi! Ku percaya, angkasa luas tak akan penuh sesak oleh seberapa banyak pun prestasi yang telah diraih oleh kawan dan lawan mu, masih banyak tempat bagi mu untuk terbang bebas mengitarinya. Kuingin kita harus menang, Ku yakin hari ini pasti menang. Yel-yel dan lagu wajib yang dinyanyikan secara serempak oleh seluruh penonton yang hadir membuat hati ini kian merinding mendengarnya. Detik-detik menentukan itu pun tiba, sepanjang jalan yang kulalui mulai dari warung kopi, rumah makan sampai kios kecil-kecilan tak luput dari nonton bareng dadakan untuk sekedar membuktikan kecintaannya pada skuad Garuda merah putih yang tengah berjuang diatas rumput hijau, sekali lagi, ini demi merah putih.

Alhasil, sejarah dengan tinta emas pun terukir. Timnas U-19 Indonesia keluar sebagai juara untuk pertama kalinya sepanjang Piala AFF digulir. Ilham Udin Armaiyn yang merupakan pemain asal Ternate menjadi penentu kemenangan Indonesia melalui eksekusi penalti yang terukur ke sudut kiri bawah gawang yang tak mampu dijangkau oleh kiper Vietnam walau ia dapat membaca arah bola. Indonesia berpesta, Indonesia patut bangga atas torehan gelar juara kali ini. Seluruh ketegangan yang dirasakan penonton terbayar lunas, kita pun dapat bernapas lega, sungguh luar biasa perjuangan anak-anak muda Indonesia, inilah prestasi, inilah Indonesia yang sesungguhnya, gelar ini untuk merah putih. Dan akhirnya saya pun harus mengakui jika ternyata nasionalisme bangsa ini masih ada.

By : Dhedie Arham Gooners

Leave a Reply

*